Home » Kapitalisme Perkayuan dan Advokasi Buruh di Jepara: Sebuah Evaluasi atas Advokasi Buruh Ukir di Jepara by Joko Legowo
Kapitalisme Perkayuan dan Advokasi Buruh di Jepara: Sebuah Evaluasi atas Advokasi Buruh Ukir di Jepara Joko Legowo

Kapitalisme Perkayuan dan Advokasi Buruh di Jepara: Sebuah Evaluasi atas Advokasi Buruh Ukir di Jepara

Joko Legowo

Published April 2011
ISBN : 9786029635973
Paperback
160 pages
Enter the sum

 About the Book 

Buku Kapitalisme Perkayuan dan Advokasi Buruh di Jepara merupakan telaah atas praksis ketenagakerjaan buruh ukir di Kabupaten Jepara. Buku hasil penelitian ini membongkar kelindan kapitalisme kayu di aras lokal beserta relasi aktor-aktornya. Di siniMoreBuku Kapitalisme Perkayuan dan Advokasi Buruh di Jepara merupakan telaah atas praksis ketenagakerjaan buruh ukir di Kabupaten Jepara. Buku hasil penelitian ini membongkar kelindan kapitalisme kayu di aras lokal beserta relasi aktor-aktornya. Di sini tampak dinamika perburuhan dalam industri mebel ukir masih berujung pada karut marut kesejahteraan buruh. Buruh ukir Jepara, apalagi buruh perempuan, masih berada dalam posisi marginal.Dalam upaya pemetaan relasi buruh, pengusaha, dan negara, Yayasan Pamerdi Luhur (YPL) melalui program advokasi menunjukkan distorsi atas konstruksi normatif perburuhan. Norma global yang dirumuskan dalam ILO Convention No. 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (Konvensi ILO No. 81 Mengenai Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Industri dan Perdagangan) tidak menjamin terhapusnya eksploitasi terselubung atau pun yang secara telanjang menimpa buruh ukir. Di tingkat lokal, negara gagap memahami regulasi perburuhan. Pada saat yang sama, buruh tidak segera menangkap pesan normatif itu, yang seharusnya diperjuangan melalui gerakan buruh.YPL tidak sekadar meletakkan advokasi dalam arti sempit. Advokasi buruh yang sudah dipromosikan memang belum selengkap dan seholistik program advokasi yang seharusnya. Tetapi, keberanian YPL untuk mendokumentasikan, mengevaluasi, serta merefleksi advokasi yang selama ini dijalani cukup membuktikan keberanian untuk berbagi dan komitmen dalam advokasi buruh. Buku ini sekaligus menjadi otokritik terhadap gerakan buruh yang bisa dikatakan antara ada dan tiada.